Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Lebaran Di BREXIT, Catatan 8 Hari

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.
Lebaran di Brexit


Lebaran memang sebuah momentum yang istimewa. Saking istimewanya, bukan hanya masyarakat muslim saja yang merayakannya, masyarakat non muslim pun secara tidak langsung terlibat di dalamnya, mulai dari sama-sama menerima THR hingga melakukan 'ritual' mudik untuk bertemu dengan sanak saudara di kampung halaman. Artinya, lebaran menjadi milik siapapun. Lebaran dan mudik menjadi budaya nasional yang tidak dibatasi sekat-sekat agama dan keyakinan. 


Ketabahan Seorang Ibu Ketika Mengetahui Anaknya Di Bakar Hidup-Hidup

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.
Ibu mana yang tidak hancur hatinya melihat darah dagingnya harus meregang nyawa karena dibakar hidup-hidup oleh amuk massa. Ibu mana tak kehilangan bila anak yang dulu dikandungnya selama 9 bulan dan dibesarkannya dengan penuh kasih harus terenggut dalam usia yang masih tergolong muda.

Seperti itulah mungkin perasaan yang dialami oleh Ibu Sutinah, orang tua Hendriyansah, salah satu pelaku pembegalan yang tewas di Pondok Aren dini hari (24/2/2015) lalu. 

Terlepas kelakuan anaknya yang sudah melewati batas karena pergaulan yang salah, saya melihat begitu hebat dan tabahnya ibu Sutinah menghadapi cobaan itu. 

Saya terhenyak ketika melihat berita tewasnya Hendriansyah tayang di TV One. Perempuan yang tidak lagi muda ini tergar berdiri disamping jasad anaknya yang nyaris tidak dapat dikenali lagi. 

Apakah yang dilakukan Ibu Sutinah? Bukannya menangis meronta-ronta, emosi atau jatuh pingsan akan tetapi justru mengangkat kedua tangannya, memanjatkan doa, memohonkan ampun atas dosa dan kesalahan anaknya. 

Road to Next Level !

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.
Ceritajengyuni


Sejak kecil, Yunda menyukai ketertarikan berbeda dengan kakaknya, Arya. Dia lebih menyukai kegiatan yang menantang adrenalin dan petualangan. Saya masih ingat betul bangaimana dia merengek-rengek untuk didaftarkan mengikuti ekstra kurikuler Pencak Silat ketika masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Kegiatan yang tidak umum bagi kebanyakan gadis kecil seusianya, pikir saya. 

Sayang sekali kegiatan ini harus terhenti ketika memasuki SD (SDIT Ukhuwah Islamiyah Kadirojo Kalasan) karena tidak terdapat ekstra kurikuler ini. Sebagai gantinya, Yunda mengikuti ekstra bela diri yang lain yakni Taekwondo.  

Yang membanggakan bagi saya, dia tidak merasa takut atau malu mengikuti latihan ekstra kurikuler ini walaupun dia adalah satu-satu siswa perempuan bahkan satu-satunya siswa paling kecil yang masih duduk di kelas 1. Itu artinya, teman-teman seperguruaannya adalah kakak kelasnya.

Sudah 3 bulan dia latihan Taekwondo di sekolahnya dibimbing oleh seorang Sabeum (pelatih) yang sabar dan telaten. Ada perubahan positif yang saya amati sejak dia mengikuti kegiatan ini yakni gerak reflek motoriknya sangat responsif dibanding sebelumnya. Mungkin ini adalah salah satu manfaat dasar dari olah raga bela diri selain keberanian dan mentality.

Minggu 8 Pebruari kemarin Yunda mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) dari Sabuk Putih ke Sabuk Kuning yang dilaksanakan oleh Pengda Taekwondo D.I Yogyakarta di GOR Tridadi Sleman. UKT ini diikuti sekitar 1500 Taekwondois dari seluruh wilayah Yogyakarta. Hasil UKT ini dapat diketahui oleh setiap peserta melalui semacam buku raport yang akan diterima seminggu kemudian. 

Saya bersyukur bisa memenuhi keinginan Yunda dan berharap ketertarikannya pada olah raga keras ini mampu memberikan manfaat terutama untuk kesehatan serta membela diri dari kejahatan diluaran sana yang kian hari kian mengkwatirkan.

  

CJYCJY

CJYCJY

CJYCJY







Diluar Banyak Dosa !

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.
ilustrasi


Seminggu lagi adalah malam tahun baru. Malam yang ditunggu oleh hampir seluruh penduduk dunia. Tentu saja banyak rencana disusun untuk menikmati malam yang datang setahun sekali itu. Dimana-mana jalan-jalan akan macet. Mall dan tempat perbelanjaan akan ramai pengunjung. Hotel dan tempat hiburan akan penuh sesak dengan berbagai macam atraksi acara yang sudah dipublikasikan mulai saat ini. 

Suami, istri, dan anak-anak tidak boleh keluar sendiri-sendiri dengan alasan apapun.
Artis lokal dan ibu kota akan panen karena kebanjiran rejeki dimalam itu. Penjualan minuman keras akan meningkat. Mungkin penjualan kondom juga akan meningkat seperti kejadian tahun lalu sebagaimana diberitakan oleh koran lokal di Jogja. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa malam itu akan menjadi perangkap dosa bagi siapa saja yang tidak berhati-hati dan terlalu mengagung-agungkan kebebasan malam tahun baru.  



Penting bagi kita yang telah berkeluarga untuk menikmati malam tahun baru bersama keluarga saja. Suami, istri, dan anak-anak baiknya tidak keluar sendiri-sendiri dengan alasan apapun. Yang demikian itu akan meminimalisir keinginan negatif efek dari euporia tahun baru.

vote me

Mungkin suami, istri, saudara dan orang-orang yang kita cintai adalah orang-orang baik, tetapi pengaruh gegap gempita tahun baru bisa saja membuatnya lupa dan akhirnya terjerumus untuk berbuat dosa. 

Mari, jaga keluarga kita dari pengaruh malam tahun baru yang tidak bermanfaat. Nikmati malam itu dengan bijak dan tetap dalam keimanan. Jangan sampai menyesal dikemudian hari !

  

   

Ayunda Masih Semangat Mengaji

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.





"Adek, sudah jam tiga, ayo mandi dulu trus mengaji." Panggil Papanya dari dalam garasi yang bersebelahan dengan teras rumah dan kamar depan. 

"Ya, bentar, pa. 5 Menit lagi" Jawab Ayunda. Nampaknya dia masih asik dengan crayon dan kertas mewarnainya di teras rumah. Aku yang sedari tadi sibuk merapikan kamar depan menjadi tersenyum mendengar jawaban Ayunda. Ya namanya juga anak-anak, pikirku. Harus sabar betul mendampingi proses perkembangannya. Ayunda memang beda dengan kakaknya, Arya, yang lebih lembut dan penurut. Wataknya yang agak keras dan gak mau kalah terkadang membuat sedikit kewalahan dalam mengasuhnya. 

Tak ingin mendengar papanya menyuruh untuk kedua kali, aku segera keluar kamar dan menghampiri Ayunda. 

"Eh, adek kok ngomong gitu sama orang tua. Nggak Boleh ya. Nanti Allah marah lho sama adek. Katanya mau jadi anak sholeh hayooo, nggak boleh gitu ya sayang. Ayo, mainnya sudah dulu. Mandi dulu trus ngaji yuk. Jangan sampai papa marah."  Bujukku sambil memeluk dan mencium rambutnya dari belakang. 

"Entar mam, 5 menit lagi ya, mam" Rajuknya dengan pandangan nampak serius pada sketsa motor yang baru separo diwarnainya. Aku kembali tersenyum. Rupanya Ayunda sudah meniru kebiasaan buruk papanya yang selalu mengatakan 5 menit lagi kalau dibangunkan dipagi hari. Bahaya, pikirku. 

Sumpah, aku mestinya tidak tega hati merusak keasikannya bermain, tetapi aku harus tega demi kebaikannya kelak. Aku pegang kedua bahunya. 

"Sudah, ayo ah...sudah jam tiga, nanti keburu sore." Bujukku sambil membimbingnya berdiri dan membantunya mengemasi perlengkapan mewarnainya yang berantakan di meja teras. Walaupun nampak sedikit kesal, akhirnya Ayunda nurut juga untuk segera mandi.



"Jangan lupa menggosok gigi ya sayang," Kataku sesampainya didepan pintu kamar mandi. Tak lama setelah itu, aku dengar suara air mengalir dari shower. Aku segera menyiapkan baju ganti dan perlengkapan lainnya. Maklum saja Ayunda baru berusia 7 tahun. Baru saja masuk sekolah dasar tahun ini, jadi masih perlu dibantu untuk kebutuhan hariannya. 

************ 

Ayunda menyisir rambutnya yang masih basah kemudian memakai jilbab pink kesukaannya. Sejurus kemudian mengambil al-Qur'an besar di samping TV. Aku telah menunggunya sedari tadi di depan TV. Bangga sekali rasanya melihat Ayunda. Al-Qur'an yang dipegang itu adalah hadiah dari ustadzahnya setelah mengkhatamkan Al-Qur'an ketika duduk dibanku TK. Ayunda adalah salah satu dari 3 siswa yang khatam.

"Knapa sih mah kok terus mengaji, kan adek udah khatam Al-Qur'annya." Tanya Ayunda sambil membuka Al-Qur'an yang telah diberi pembatas kertas sebagai pengingat. Akupun tersenyum sambil memperhatikan wajahnya yang cantik dalam balutan jilbab.

"Walaupun sudah khatam Al-Qur'an, Adek harus tetap mengaji karena Al-Qur'an itu petunjukan jalan bagi umat Islam, sayang,"  Jawabku. Ayunda nampak tidak mengerti atas jawabanku itu. Terlihat sekali dari raut wajahnya.

"Dengan dibaca dan dipahami artinya, maka kita akan mendapat pahala berlimpah, di sayang sama Allah dan dimudahkan apabila mendapat kesulitan," Lanjutku berusaha menyederhanakan bahasa agar dipahami olehnya.

"Oh gitu ya ma, berarti kalau adek baca Al-Qur'an terus akan ditolong Allah ya ma kalau nanti ujian sekolah?" Tanyanya lagi. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Seneng sekali Ayunda sudah sedikit memahami penjelasanku walaupun dengan pemahaman yang sangat sederhana.

"Insya Allah, sayang. Allah akan menolong bila adek rajin membaca Al-Qur'an. Udah yuk mengaji dulu," Kataku

Setelah itu, Ayunda membuka Al-Qur'an yang didepannya dan mulai membacanya dengan perlahan-lahan dari ayat terakhir yang dibaca tempo hari.

"Bismillahirrohmanirrohim....."  

************
      

Mudik lebih Awal dan Menikmati Sate Blengong

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.

Tahun ini, kami sudah sepakat kalau agenda mudik lebaran adalah ke Brebes dahulu sebelum ke Kudus. Kota yang mempunyai logat khas "ngapak-ngapak" dan populer dengan sate Blengongnya selain Bawang dan Telor Asin. Kebetulan awal puasa ini, ternyata anak-anak sudah mulai libur sekolah. Jadi rencana mudik lebaran akhirnya sepakat dipercepat !

Horeee...begitulah si kecil Arya dan Yunda bersorak mendengar rencana ini. Mungkin dibenaknya sudah tergambar bagaimana asiknya berkumpul dengan saudara-saudaranya,  Idang, Fahril, Meilin, Syifa dan Hana. Disayang-sayang utiknya plus dimanja-manja sama Pakde dan Budenya. Mungkin juga sudah membayangkan serunya bermain PS sampai tertidur, internetan atau macing di sungai hingga sore.

Thus, Sabtu pagi (29/07) jam 07.00 WIB kami sudah bersiap-siap. Barang bawaan yang lumayan banyak langsung masuk bagasi yang tidak terlalu luas, and go ! Setelah menempuh perjalanan selama hampir 8 Jam melewati kerasnya aspal jalur Pantura, akhirnya sampai juga di Brebes saat berbuka puasa dengan menu SATE BLENGONG.

Sate Blengong, apa itu ? Blengong adalah spesies perkawinan antara itik dan entog. Spesies ini menjadi umum di Brebes mengingat kota ini juga sebagai penghasil Telur Asin paling populer se-Dunia. Dagingnya sangat gurih baik itu digoreng maupun di sate. Umumnya, para petani di Brebes juga memelihara itik blengong. Daging itik blengong ini terbilang makanan yang rendah kolestrol, jadi aman di makan. Oleh karenanya Sate Blengong juga menjadi makanan khas di Brebes dan jarang ditemui di daerah lain.

Sate blengong sangat berbeda dengan sate-sate lainnya, tusuk sate blengong berasal dari batang bambu yang ukurannya lebih besar dan panjang potongannya. Dagingnya di sajikan seukuran ibu jari. satu tusuk sate blengong hanya terdapat 7-10 potong daging saja.

Bila melewati sepanjang jalan dari pasar brebes ke alun-alun, anda tidak akan kesulitan mendapati penjual sate blengong. Dialun-alun setidaknya ada 2 penjual sate Blengong, di pojok barat alun alun, dan pojok selatan timur alun-alun atau terkenal dengan sate blengong “tuti”, dari nama penjualnya bernama Tuti. Ada lagi yang mangkal di depan Bank Jateng yang terkenal dengan sate belngong Kari, atau penjualnya bernama Man Kari yang selanjutnya diteruskan anaknya.

Selain itu, bagi orang yang ingin nyaman, tanpa gangguan orang saat menikmati makan sate blengong, anda boleh juga ke pasar batang, atau komplek islamic Center, yang orang mengenalnya dengan prapatan “Rajak”., yang juga disebut kupat blengong Rajak. Penjual sate Blengong inipun juga dianggap legendaris sebagai warung penjual sate kupat blengong.

Asiknya sate blengong ini kalau dipakai menggunakan ketupat. Ketupat disajikan dengan guyuran cairan yang berbahan santan dan diberi berbagai rempah-rempah lokal, serta bumbu dapur yang tidak begitu kental. Di taburi krupuk yang sudah di remas-remas dan di campur dengan bawang goreng. Waduh...saya jamin anda nambah makannya ! Lagian satu porsi gak nyampai Rp. 20.000.

Jangan salahkan saya kalau ketagihan, ya.



Ayunda Diwisuda Dengan 2 Penghargaan Sekaligus

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.


Minggu (22/06) bertempat di sebuah gedung pertemuan Kelurahan Selomartani Kalasan Sleman, Ayunda dan  teman-temannya di TK Al-Amien Kadisoka akhirnya menjalani prosesi terakhir, yakni Wisuda Siswa. Ini berarti, Ayunda akan melanjutkan ke jenjang berikutnya, pendidikan dasar (SD) setelah ini. 

Dari sekitar 79 siswa, Alkhamdulillah, Ayunda merupakan satu-satunya siswa yang mendapatkan dua piala penghargaan sekaligus dalam prosesi wisuda tahun ini, yaitu sebagai siswa berprestasi di kelasnya dan siswa telah khatam Al-Qur'an 30 Juz. Akhirnya keinginan Ayunda terwujud ! 

Tentang keberhasilannya mengkhatamkan Al-Qur'an, sebenarnya Ayunda sudah mengkhatamkannya sekitar dua bulan lalu, akan tetapi oleh sekolah, penghargaan diberikan bersamaan dengan prosesi wisudanya. Sebagai sebuah catatan, dari seluruh lulusan TK Al-Amien Kadisoka tahun ini hanya ada tiga 3 siswa yang berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an, salah satunya adalah Ayunda.

Sebagai orang tua, tentu saja sangat gembira dan bangga dengan pencapaian prestasi Ayunda selama belajar di TK Al-Amien. Apa yang telah dicapai Ayunda dan teman-temannya, merupakan hasil didikan seluruh staf pengajar yang telah mendedikasikan waktunya untuk perkembangan siswa dan siswinya.     

Prosesi wisuda sangat meriah dan dihadiri hampir semua orang tua siswa. Semua siswa baik dari Pra TK dan TK Al-Amien Kadisoka bergantian menunjukkan bakat seninya dalam panggung seluas 12 x 6 meter ini. Dek Yunda dan teman-temannya kebagian mementaskan drama Berbahasa Inggris, Tarian Modern, Praktek Menghitung Cepat Sempoa dan Menyanyi diiringi Organ Tunggal.

Acara wisuda yang selesai pada pukul 11.30 WIB ini diakhiri dengan ritual bersalam-salaman orang tua dan segenap pengajar. Suasana berubah menjadi haru biru. Isak tangis dan air mata akhirnya tumpah tak tertahan lagi. Terima kasih ibu guru semua, minta do'a dan restunya untuk Ayunda semoga tetap berprestasi di jenjang pendidikan selanjutnya. Amien.



KAYLA AYUNDA NARAPRAMESTI




Menikmati Waktu, Menanti Tua Bersama

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.


Sering saya melihat kakek dan nenek berjalan berdua dengan bergandengan tangan. Walaupun usianya sudah "sepuh" tetapi saya masih melihat aura kemesraan di antara keduanya. Seperti iklan motor yamaha Touching your heart pokoknya. Sangat menyentuh.

Saya berfikir, apa yang membuat mereka saling mencinta dan tetap mesra sampai tua. Apakah hanya karena kekuatan cinta yang menghasilkan komitmen masa lalu atau karena apa. "Wis dek, pokoknya apapun yang terjadi kita selalu satu hati dan kita jalanin bersama," begitu kurang lebihnya, seperti iklan motor Honda "One Heart"

Kalau hanya karena kekuatan cinta kok sepertinya tidak. Karena cinta itu bisa saja luntur karena gerusan waktu. Coba lihat, mereka yang bercerai bukanya dulu hatinya haru biru penuh dengan cinta yang akhirnya berbuah pernikahan. Jarang pernikahan terjadi tanpa cinta di antara keduanya. Kalau masih ada, itu sebuah pengecualian dalam perspektif masyarakat saat ini. Barangkali satu di antara seribu orang.

Saya pernah bertanya pada seseorang. Sebut saja namanya Mbah Jarwo dan Mbok Sarni. Kebetulan ketemu sama kakek-nenek tersebut di sebuah warung es cendol di pinggiran jalan. Ketika saya tanya tentang apa resepnya kok bisa mesra sampai tua. Apa jawaban mereka? Kalau saya translate ke dalam bahasa Indonesia seperti ini :
"Kami telah sepakat menghormati "ikatan pernikahan". Kami telah menyerahkan diri masing-masing untuk lebur pada ikatan itu. Kami juga tidak berfikir atas perceraiaan, karena hidup cuman sekali. Kalau sudah diberi jodoh Tuhan satu ya itu sampai mati. Menerima pemberian itu dengan syukur "
Dari jawaban ini saya menyimpulkan bahwa, "Nrimo ing Pandhum" atau menerima pemberian Tuhan apapun itu dan seberapun itu disertai syukur yang menjadi prinsip Mbah Jarwo dan Mbok Sarni.

Ternyata prinsip hidup yang sederhana itu menentramkan hidup itu sendiri. Apa masih cocok prinsip tersebut diterapkan di jaman yang serba gemerlap ini ? Silahkan anda maknai sendiri. Yang pasti sudah ada contoh kehidupan itu.

Semoga saya seperti Mbok Sarni dan Bapaknya anak-anak seperti Mbah Jarwo, dapat menikmati waktu dan menanti tua bersama, setelah itu baru mati.



Sepucuk Surat Untuk Ayah

Anda hanya butuh waktu membaca artikel ini.

Foto Kenangan Bersama Ayah
Dukumen Pribadi


Ayah,
Aku ingin berkirim surat kepadamu. Menanyakan apakah Allah telah memberikan tempat yang indah untukmu, Al-Jannah yang telah dijanjikan bagi hamba-Nya yang sabar dan Ikhlas,  
Mereka (orang-orang yang sabar) itulah yang akan dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam al-jannah) dikarenakan kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. (Al Furqaan : 75)
Tahukah ayah, Kepergian ayah dua tahun lalu sungguh telah membuat aku seperti kehilangan sandaran hidup. Kehilangan jiwa dan rasa. Aku belum bisa membalas apa-apa atas kesabaran, keikhlasan dan cinta Ayah. Engkau telah menjalani kodrat hidup yang keras dan serba kekurangan tetapi tidak pernah sekalipun menunjukkan keluh pada anak-anakmu atas beban berat itu.  

Aku masih ingat ayah,
Bagaimana ayah memutuskan menjual kusi ruang tamu kayu jati berbusa merah dan almari kayu tempat menyimpan baju-baju ayah sendiri. Ayah jual semua itu untuk biaya pendaftaran ulang kuliahku di Jember. Aku mengerti, ayah tidak menginginkan anak-anaknya perpendidikan rendah seperti ayah yang hanya lulusan SR (Sekolah Rakyat). Walaupun ayah tahu, bahwa aku hanya seorang perempuan. Ayah berbeda dengan pemikiran kebanyak orang di kampung, bahwa perempuan diciptakan hanya untuk dapur, sumur dan kasur.

Ayah juga tidak mengeluh menyisihkan uang makan harian ayah untukku. Aku sangat bersyukur menerima uang 60.000 setiap bulan dari ayah. Uang yang disembunyikan dalam lipatan kertas karbon hitam bersama sepucuk surat yang berisi khabar keluarga. Bukan melalui transfer ATM atau wesel pos kala itu. 

Ayah tidak malu hutang sana-sini untuk menutup biaya lain-lain selama kuliahku. Entah berapa banyak hutang tersebut. Ayah berkeras bahwa itu sudah menjadi kewajiban sebagai orang tua. Walaupun itu harus terjadi. Ayah selalu cerita tentang keikhlasan hidup. Ayah selalu bilang bahwa Allah yang akan memudahkan jalan dan membayarnya kelak dengan cara yang indah. 

Ayah,
Aku melihat betapa ayah bangga, ketika ayah menghadiri wisudaku dulu. Dengan berpakaian batik dan berpeci hitam, ayah bersemangat mendampingi penerimaan tanda kelulusanku. Ayahlah yang pertama menujukkan kepada warga kampung bahwa anak perempuan juga punya hak yang sama dengan anak laki-laki untuk mengenyam pendidikan tinggi. Tidak hanya sebatas lulus SMA lalu dikawinkan.

Menceritakan kembali bagaimana ayah menghadiahi aku kompor gas, lemari es, dan tempat tidur ketika aku memutuskan mengikuti suami untuk kontrak rumah agar dekat dengan tempat kerja. Aku tidak ingin memberatkan ayah. Tetapi ayah berkeras agar aku menerima itu. 

Lima bulan kemudian aku baru mengetahui, bahwa ternyata barang-barang itu ayah beli dengan cara kredit dan harus membayar bulanan beserta bunganya. Ya Allah, sampai segitukan ayah berkorban untukku. Sampai aku bersuami pun cinta ayah tidak terhenti. Tanpa bermaksud menyinggung perasaan ayah, dengan seijin suami akhirnya aku mengambil alih pembayaran kredit barang-barang itu hingga lunas.   

Ayah,
Aku ingin berkirim surat untukmu. Menanyakan kembali, apakah Allah telah menepati janji mewujudkan amal ibadah dan pengorbanan ayah menjadi teman-teman cahaya yang menerangi ayah hingga hari penghisaban nanti. 
Datanglah seorang laki-laki tampan yang berpakaian bagus dan berbau harum. Ia berkata, “Berbahagialah dengan segala yang membahagiakan Anda. Ini adalah hari kebahagiaan Anda yang telah Allah janjikan.” Orang beriman tersebut bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu tampan sekali.” Ia menjawab, “Aku adalah amal saleh Anda.”
Ayah, 
Aku ingin berkirim surat untukmu. Aku sertakan foto kenangan bersamamu. Foto lama yang aku temukan disela-sela buku harianku. Foto kita bersama Ibu dan adek sedang duduk dikursi yang engkau jual untukku itu. 

Ijinkan aku menebus cinta kasih dan pengorbananmu dulu. Aku kirimkan fadhilah Al-Fatehah dalam sujud dan setiap helaan napasku. Aku juga berjanji akan mengisahkan kembali cinta dan pengorbanan itu kepada cucu-cucumu, bahwa cinta telah menginspirasi seorang ayah melakukan apapun untuk anak dan keluarganya.

Ayah,
Aku menangis karena rindu dan berharap berkumpul bersama ayah bila Allah memanggilku kelak.
   
oooo0oooo




RECENT


        Emak-Emak Blogger         Blogger Perempuan         Blogger Reporter Indonesia
Modified by Yuni Andriyani 2014. Diberdayakan oleh Blogger.